Selasa, 01 Desember 2020
Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah : Kamis, 15 Oktober 2020 | 11:00 WIB

Himedik.com - Hingga kini sudah ada 25 kasus reinfeksi virus corona. Dilaporkan salah satu pasien dari Belanda telah meninggal dunia setelah terinfeksi untuk yang kedua kalinya.

Pasien, seorang perempuan berusia 89 tahun diyakini sebagai kasus kematian akibat infeksi Covid-19 ulang pertama.

Menurut The Health Site, saat sang pasien pertama kali terinfeksi, ia mengembangkan gejala demam tinggi dan batuk parah.

Dia dipulangkan dari rumah sakit lima hari kemudian dengan hasil dua tes PCR negatif dan gejalanya hilang.

Ilustrasi sakit parah (Shutterstock)

Setelah dua bulan, ia kembali terinfeksi dengan virus corona jenis yang berbeda. Perempuan ini mengalami demam, batuk, dan sesak napas yang parah, hingga harus kembali dirawat di rumah sakit.

Sebelum infeksi kedua, ternyata perempuan ini menderita Macroglobulinemia Waldenström, suatu bentuk kanker sumsum tulang langka, yang tampaknya telah melemahkan sistem kekebalannya.

Dia terinfeksi ulang pada dua hari perawatan kemoterapi dan meningal dunia dua minggu kemudian.

Infeksi Ulang Menyebabkan Gejala yang Lebih Parah

Studi yang terbit dalam The Lancet Infectious Diseases juga melaporkan kasus infeksi ulang Covid-19 pertama yang dikonfirmasi di Amerika Serikat.

Seorang pria asal Nevada berusia 25 tahun terinfeksi dengan dua varian SARS-CoV-2 yang berbeda dalam jangka waktu 48 hari. Pasien terinfeksi pertama kali pada April dan positif untuk kedua kali pada Juni.

Menurut laporan, pasien menderita gejala yang lebih parah selama infeksi kedua, meski sebenarnya ia tidak memiliki masalah dengan kekebalannya atau penyakit penyerta. Membuatnya harus mendapat bantuan oksigen.

Gejala yang dirasakan saat infeksi kedua adalah demam, sakit kepala, pusing, batuk, mual, dan diare.

Sekarang, pasien telah pulih dan keluar dari rumah sakit.

Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)

Ada beberapa hipotesis tentang tingkat keparahan infeksi kedua. Satu teori mengatakan mungkin pasien Covid-19 terkena virus dalam jumlah lebih banyak, yang menyebabkan reaksi lebih parah.

Hipotesis lain menduga pasien telah terinfeksi jenis virus corona yang lebih ganas.

Alasan lain yang masuk akal, menurut para peneliti, adalah mekanisme peningkatan yang bergantung pada antibodi.

Beberapa protein pelindung yang diproduksi oleh sistem kekebalan selama infeksi pertama dapat memperburuk infeksi berikutnya. Mekanisme ini juga terlihat pada SARS, serta demam berdarah.

Meski masih banyak yang tidak diketahui tentang infeksi SARS-CoV-2 dan respons sistem kekebalan, temuan ini menunjukkan bahwa infeksi sebelumnya mungkin tidak menjamin perlindungan terhadap infeksi di waktu yang lain, tandas Mark Pandori, penulis utama studi dari University of Nevada.

BACA SELANJUTNYA

Umumnya Parah, Paru-Paru Pasien Covid-19 Masih Mungkin Pulih dengan Baik