Jum'at, 10 April 2020
Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni : Sabtu, 08 Februari 2020 | 13:00 WIB

Himedik.com - Data per 6 Febuari 2020, wabah virus corona sudah merenggut nyawa lebih dari 600 orang dan lebih dari 31 ribu orang positif terinfeksi penyakit menular ini secara global.

Para ahli pun memperkirakan wabah virus corona ini akan berhenti pada Mei 2020 mendatang. Hal ini berkaitan dengan cuaca di China saat Mei 2020.

Dalam ssebuah tulisan untuk CNA dilansir oleh World of Buzz, dua ahli di Singapura, Asisten Profesor Jyoti Somani dan Profesor Paul Ananth Tambyah dari Sekolah Kedokteran Nasional Yong Loo Lin telah mengungkapkan prediksi mereka.

1. Iklim dan cuaca memengaruhi penyebaran virus

Para ahli mengatakan wabah virus corona 2019-nCoV ini mirip dengan infeksi influenza dan SARS yang memiliki pola musiman. Ketika memasuki musim panas pada Mei 2020, suhu di China akan naik dan jumlah kasus virus corona kemungkinan akan menurun tajam.

Karena, suhu iklim yang meningkat itulah memengaruhi penyebaran virus corona di China. Biasanya, musim penyakit flu akan dimulai pada bulan Desember dan mencapai puncaknya pada Januari atau Febuari di daerah yang beriklim sedang. Setelah itu, kasus orang sakit flu akan berkurang.

warga di cek suhu tubuhnya saat sosialisasi mengenai Virus Corona di Tower Apartemen Mediterania Garden Residences 2, Jakarta Barat, Kamis (6/2). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Mereka meyakini prediksi soal virus corona ini kemungkinan besar benar, karena wabah SARS juga berhenti ketika musim panas 2013 lalu. Saat itu angka kasus SARS mulai menurun drastis.

2. Kontak dekat dengan orang lain selama musim dingin

Kala cuaca dingin, orang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan dan memiliki kontak dekat dengan orang lain.

Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terinfeksi virus corona karena berhubungan dekat dengan orang yang mungkin sudah terinfeksi tanpa gejala.

3. Virus bertahan lebih lama selama musim dingin

Menurut penelitian, salah satu penyebab penyebaran virus corona sangat cepat karena cuaca yang dingin. Kondisi ini membuat virus 30 kali lebih kuat bertahan lama dengan suhu 6 derajat celcius. Berbeda bila suhunya mencapai 20 derajat celcius.

Para ilmuwan juga mengungkapkan bahwa virus SARS bertahan lebih lama di suhu rendah dan kelembapan rendah dibandingkan dengan suhu dengan kelembapan tinggi.

Sehingga wabah SARS di Hong Kong dan Singapura kala itu bertahan lebih lama karena penggunaan AC yang intensif, tidak seperti negara di Asia Tenggara yang hangat dan lembab.