Senin, 25 Mei 2020
Vika Widiastuti | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana : Senin, 25 Februari 2019 | 17:30 WIB

Himedik.com - Kasus penusukan yang sempat heboh pada 2010 lalu rupanya dialami oleh seorang wanita yang kini banyak dikenal publik sebagai YouTuber. Korban penusukan 17 kali itu ialah Listya Magdalena alias Paopao LDP.

Pada Maret 2010 silam, publik digemparkan berita soal wanita 18 tahun yang ditusuk teman kuliahnya di dalam mobil. Pelaku dan korban merupakan mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta.

Sembilan tahun berselang, korban, Listya Magdalena, menceritakan kembali kronologinya. Wanita yang lebih dikenal dengan nama Paopao ini mengungkapkan kembali masa lalunya itu dalam video yang diunggah di kanal YouTube Rico Huang pada Selasa (19/2/2019).

Sesuai dengan tema YouTube Rico, Paopao diwawancarai soal bisnis, salah satunya kanal YouTube Last Day Production (LDP), yang ia kelola bersama Guntur. Di tengah perbincangan, Paopao juga ditanyai soal kasus penusukan yang menimpanya pada 2010.

Tak seperti korban kekerasan pada umumnya, kesehatan mental Paopao sama sekali tak terguncang. Ia mengaku, ada hikmah di balik bencana tersebut.

"Nah ini lucu nih, kalau misalnya aku enggak kena 17 tusukan ini, mungkin, enggak bisa ada LDP. Soalnya aku ketemu Guntur itu, (dia) angkatan setelah aku, jadi aku mundur satu angkatan," kata Paopao.

Wanita berambut sebahu ini kemudian menjelaskan lagi kronologi penusukan itu, yang ia alami pada semester kedua perkuliahan. Paopao mengaku, ia dan pelaku hanya sebatas teman seangkatan yang sering bertemu dalam satu kelas, tetapi tidak dekat.

"Dia mau numpang, katanya ke Puri Indah (Mall), kebetulan dia tahu rumah aku juga deket Puri Indah kan," ujar Paopao. "Selama perjalanan kita sama sekali enggak ngobrol. Dia tuh cuma ngobrolinnya soal mobil, kayak, 'Ini cara pakai mobilnya gimana, ini untuk apa, N apa,' gitu-gitu."

Peristiwa tak terduga kemudian terjadi saat Paopao dan temannya tiba di tempat tujuan.

"Sama sekali enggak ada berantem, kita enggak pernah ada hard feeling, di kuliah pun, orang jarang ngobrol," katanya.

"Sampai di depan gerbang mal Puri Indah, kita belum masuk ambil karcis, dia minta turunin di situ, terus udah gitu, gua stop. Dia bilang, 'Eh majuan dikit dong.' Lewatin gerbang karcis, ya udah gua majuan, di situ, baru injak rem, belum sempet netral, udah langsung tusuk-tusuk aja."

Paopao sempat berpikiran ia hendak dijambret temannya sendiri karena selama perjalanan ia ditanya-tanyai soal mobilnya. Namun, ternyata pelaku memiliki gangguan mental.

Paopao mengatakan, menurut psikiater, pelaku sempat melukai diri sendiri untuk menuduh Paopao menyerangnya terlebih dahulu. Selain itu, setelah menghujani 17 kali tusukan pada Paopao, pelaku malah senyum-senyum dan tak terlihat takut sama sekali.

"Ternyata selidik-selidik, dia itu takut, dia itu jealous, aku ngambil kelompok-kelompok permainanannya dia," ungkap Paopao. "Diselidikin lagi, dari SMP, SMA itu udah sering di-drop out gara-gara pernah ngejar temennya pakai gunting, nusuk temennya pakai pensil."

"Psychopath, bukannya orang gila, ya. Untuk ngobrol apa sebenarnya normal," kata Paopao lagi.

Meski mengalami hal yang sangat mengerikan, Paopao tak mengalami trauma.

"Saat di sana, ketika aku lagi down atau apa, malah lebih banyak yang care dibandingkan yang nyakitin, ya, emang dia ngelukain, tapi, aku lihat, puluhan orang jenguk, sampai antre, sampai nangis, berasanya lebih kayak berkat sih buat aku," kata Paopao.

"Papa datengin psikiater, pas lagi ditanya-tanya, katanya, 'Pak, ini mah anaknya enggak kenapa-kenapa, enggak butuh saya, udah deh, saya pergi aja,'" imbuhnya.

Dokter bahkan heran pada Paopao karena masa pemulihannya tak membutuhkan waktu yang lama. Padahal paru-parunya bocor

"Dari segi mental, juga positif banget saat itu, happy-happy banget, makanya recovery-nya juga cepet banget. Bahkan dokternya sendiri, pas nanganin aku, kan paru-paru aku bocor, limpa juga bocor, sampai masukin selang ke tenggorokan," ujar Paopao. "Di situ aja dokternya juga kaget, 'Kok ini anak recovery-nya cepet banget,' kayak cuma dua minggu kalau enggak salah, dua kali operasi."