Kamis, 28 Mei 2020
Rauhanda Riyantama | Dwi Citra Permatasari Sunoto : Minggu, 30 Desember 2018 | 16:00 WIB

Himedik.com - Sepanjang tahun 2018 ini sudah banyak ragam diet yang bermunculan. Namun, sepertinya kalian melewatkan intermittent fasting.

Muncul di pertengahan tahun, program diet yang menekankan pembatasan jam makan ini baru menjadi perbincangan di penghujung tahun. Nagita Slavina adalah salah satu artis yang mencoba menerapkan program diet ini dengan memberikan tantangan pada ketiga asistennya.

Lalu sebenarnya seberapa efektifkah program diet ini? Berikut penuturan seorang ahli diet bernama Sally Kuzemchak, MS, RD., dilansir dari laman WebMD.

Sebagai ahli diet, saya sudah mencoba banyak hal atas nama sains seperti pembatasan karbohidrat, diet eliminasi, detoks gula, hingga menghitung kalori. Saya pikir jika saya akan memberikan saran tentang sesuatu, mengapa tidak merasakan pengalaman langsung?

Intermittent fasting (puasa terputus) adalah salah satu tren paling digemari saat ini, dan saya benar-benar ingin tahu.

Ditambah, sebenarnya ada bukti untuk mendukungnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa puasa sebenarnya dapat membantu menurunkan risiko penyakit.

Sebuah tinjauan penelitian baru-baru ini menyimpulkan bahwa intermittent fasting adalah pendekatan yang "menjanjikan" untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan, tapi hanya bagi mereka yang mampu menjalaninya.

Saya pikir saya bisa, karena saya tidak lagi makan dengan porsi banyak dan ingin berhenti ngemil malam hari, saya memutuskan pendekatan "16: 8". Maksudnya adalah periode makan hanya dalam waktu 8 jam dan sisanya berpuasa.

Pendekatan lainnya adalah metode "5: 2", yang mengarahkan Anda hanya mengambil 500 kalori selama dua hari dalam seminggu dan sisanya makan secara normal.

Saya berjuang. Saya merasa pusing dan kosong, otakku terasa kabur, dan melamun tentang smoothie pagiku ketika menit demi menit berlalu.

Namun, saya tetap berpegang teguh pada rencana untuk melakukan puasa terputus selama seminggu penuh dan berikut beberapa pelajaran penting yang dapat diambil.

Masalah makan terakhir

Apa yang saya makan di malam hari berpengaruh pada nasib saya keesokan harinya. Contohnya adalah semangkuk kecil sup untuk makan malam, membuat perut saya keroncongan pada jam 7 pagi.

Sebaliknya, porsi yang lebih besar dengan banyak protein membuat saya kenyang lebih lama.

Perencanaan adalah segalanya

Ini lebih sulit daripada teori karena harus memasukkan semua makanan ke dalam periode 8 jam, dan kalori itu benar-benar perlu dihitung jika ingin mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Kopi atau teh dapat membantu

Beberapa orang yang pernah menjalani intermittent fasting minum sedikit demi sedikit teh hijau atau kopi sepanjang pagi. Saya bukan penggemar keduanya, tetapi tentunya mereka membantu menahan rasa lapar.

Hidup akan menemukan jalannya

Telat makan malam, pesta, liburan, dan penyakit, akan mengganggu jadwal diet Anda dan membuat rencana ini 100 persen mustahil dilakukan.

Diet dapat menyebabkan fiksasi makanan

Saya cenderung menjadi sibuk dengan makanan ketika tidak bisa memilikinya dan saya pikir itu juga dialami oleh semua orang. Saat berpuasa, saya merindukan makanan dengan cara yang sepertinya tidak sehat, baik dari segi mental maupun fisik.

Sebagian orang mungkin menyukai dan cocok dengan intermittent fasting, tetapi saya tidak. Saya lebih baik melakukan perubahan kecil dan sehat yang tidak terlalu menyakitkan.

Intinya adalah bahwa pendekatan apa pun yang diambil untuk mengatur pola makan harus berkelanjutan dan berakhir menyenangkan.