Himedik.com - Liliek Subagyo, kakak Didi Kempot menuturkan, sang maestro campursari itu memiliki riwayat penyakit asma sejak kecil. Sempat sembuh, namun seiring waktu kembali kambuh.
"Asma dari kecil ada tapi pas udah dewasa baru kambuh lagi, kecapekan. Dia kan kalau kepanasan mesti napas yang dikeluhkan, kedinginan juga," tutur Liliek, dikutip dari Kompas TV, Selasa (5/5/2020).
Ia menambahkan, selama ini Didi Kempot hanya mengatasi sesak napas menggunakan inhaler.
"Sebetulnya sakitnya enggak ketahuan. Cuma sesak napas terus disemprotkan (obat asma) itu sembuh lagi," sambungnya.
Meski begitu, Liliek mengaku belum mengetahui penyebab meninggalnya pelantun Pamer Bojo ini.
Asma merupakan satu dari sekian banyak penyakit kronis atau jangka panjang pada saluran pernapasan. Penyakit ini ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas sehingga menimbulkan sesak atau sulit bernapas.
"Orang-orang berpikir tentang asma mulai dari masa kanak-kanak, tetapi mengembangkan asma di kemudian hari lebih umum daripada yang Anda pikirkan," kata ahli paru Rachel Taliercio, DO.
Namun sayangnya, asma pada orang tua cukup sulit dikenali.
"Asma bisa membingungkan pada orang tua karena gejalanya sering tumpang tindih dengan kondisi lainnya," ujar profesor Alergi dan Imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Morsani di Florida Selatan, Dennis K. Ledford, MD.
"Itu sebabnya sangat penting bagi pasien untuk berbicara dengan dokter jika melihat ada perubahan pada pernapasan, apakah mereka telah didiagnosis dengan asma atau belum," sambungnya, dilansir dari Everyday Health.
Baca Juga:
Mengenal Henti Jantung Didi Kempot, Ini Bedanya dengan Serangan Jantung!
Berdasarkan Cleveland Clinic, asma lebih berbahaya pada orang dewasa.
"Tingkat kematian untuk awitan penyakit asma orang dewasa jauh lebih tinggi daripada angka kematian untuk asma anak-anak. Salah satu alasannya mungkin karena orang dewasa mengabaikan gejala asma atau mengaitkannya dengan kelebihan berat badan," tulis Cleveland Clinic.
Gejala asma juga dapat meniru gejala penyakit lainnya, termasuk hiatal hernia, gangguan perut, gagal jantung, artitis reumatoid, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan asma dapat merusak fungsi paru-paru secara permanen.
Berita Terkait
Terkini
-
VinFast Ubah Cara Pandang Dunia: Strategi Cerdas Bikin Mobil Listrik Lebih Dekat dengan Masyarakat
-
Pecahkan Kekhawatiran, VinFast Tawarkan Skema Langganan Baterai yang Inovatif dan Ramah Lingkungan
-
VinFast dan Transisi Energi Indonesia: Menjembatani Retorika Hijau dengan Aksi Nyata
-
Target Ambisius Transisi Kendaraan Listrik Indonesia 2030, Infrastruktur Sudah Siapkah?
-
Strategi Berani VinFast: Mengubah Permainan EV di Asia Tenggara, Dimulai dari Indonesia
-
Bisa Orgasme & Ejakulasi setelah Vasektomi? Fakta Penting yang Wajib Pria Ketahui!
-
5 Manfaat Fisioterapi, Tak Cuma Atasi Nyeri & Cedera
-
Jangan Sepelekan! Kurang Tidur Bisa Bikin Otak Lebih Cepat Tua
-
4 Trik Sederhana Jalan Kaki 10.000 Langkah Setiap Hari, Bakar Kalori Tak Harus ke Gym
-
Ciri-Ciri Menstruasi Normal, Bisa Dilihat dari 3 Hal