Senin, 29 April 2024
Rosiana Chozanah : Sabtu, 22 Januari 2022 | 15:00 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Himedik.com - Studi terbaru yang terbit di Lancet menunjukkan resistensi antimikroba paling parah terjadi di negara berpenghasian rendah dan menengah.

Tetapi, negara-negara berpengahsilan tinggi juga menghadapi tingkat kasus yang sama tingginya, lapor The Conversation.

Resistensi antimikroba diperkirakan telah menyebabkan 1,27 juta kematian di seluruh dunia dan dikaitkan dengan sekitar 4,95 juta kematian pada 2019.

Sebagai perbandingan, HIV/AIDS dan malaria diperkirakan hanya menyebabkan 860.000 dan 640.000 kematian untuk masing-masing penyakit di tahun yang sama.

Peneliti menemukan lebih dari 23 jenis bakteri yang diteliti, ada 6 jenis yang sudah kebal terhadap antibiotik dan telah menyumbang 3,57 juta kematian di seluruh dunia.

Destruction of tuberculosis bacteria, 3D illustration. Conceptual image for tuberculosis treatment

Laporan ini juga menunjukkan bahwa 70% kasus kematian resistensi antimikroba disebabkan oleh resistensi antibiotik, obat yang sering dianggap sebagai garis pertahanan pertama melawan infeksi berat.

Antibiotik tersebut termasuk beta-laktam dan fluoroquinolones, yang sangat umum diresepkan untuk infeksi, seperti infeksi saluran kemih, pernapasan atas dan bawah, serta infeksi tulang serta sendi.

Studi ini menyoroti pesan yang sangat jelas bahwa resistensi antimikroba global dapat membuat infeksi bakteri sehari-hari tidak dapat diobati.

Beberapa perkiraan menunjukkan resistensi antimikroba dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahun pada 2050. Ini akan menyalip kanker sebagai penyebab utama kematian di seluruh dunia.

BACA SELANJUTNYA

Jangan Pakai Mainan Seks yang Sama 2 Kali dalam 24 Jam, Ini Dampak Buruknya!