Rabu, 25 November 2020
Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah : Selasa, 18 Agustus 2020 | 13:00 WIB

Himedik.com - Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan kecemasan dan emosi lainnya.

Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM 5) saat ini mendefinisikan PTSD sebagai gangguan terkait trauma dan stresor.

Ini adalah kondisi yang terjadi pasca satu atau lebih peristiwa atau pengalaman traumatis dalam hidup seseorang.

Penderita PTSD terus bergumul dengan tantangan emosional lama setelah peristiwa tersebut terjadi. Tingkat keparahan rasa trauma atau kesusahan mereka pun tidak berkurang seiring waktu.

Ada beberapa mitos menyangkut PTSD yang hingga kini masih dipercayai banyak orang.

Ilustrasi alami PTSD (shutterstock)

Dilansir The Health Site, berikut beberapa di antaranya dan fakta terkait mitos tersebut:

1. Mitos: Tidak ada pengobatan untuk kondisi kesehatan mental ini

Fakta: Seperti banyak kondisi psikolog lain, PTSD memang tidak dapat disembuhkan. Namun, ada berbagai pilihan pengobatan yang membantu penderita mengelola gejalanya agar hidup lebih baik.

2. Mitos: Siapa pun yang mengalami trauma mengembangkan gangguan ini

Fakta: Kebanyakan orang pulih dari stres akibat pengalaman traumatis seiring berjalannya waktu, bahkan jika itu akut.

Hanya sedikit yang mengalami efek stres yang berkepanjangan bahkan lama setelah terjadinya peristiwa traumatis dan bergulat dengannya.

Ilustrasi PTSD (Shutterstock)

3. Mitos: Hanya orang lemah yang mengalami kondisi klinis ini

Fakta: PTSD tidak mencerminkan ketabahan atau kekuatan struktur emosi seseorang. Ada berbagai macam variabel atau faktor yang meningkatkan atau menurunkan kerentanan seseorang terhadap gangguan ini.

4. Mitos: PTSD membuat orang menjadi gila

Fakta: Orang yang bergumul dengan kondisi ini mengalami berbagai macam emosi termasuk ketakutan akan bahaya yang mengintai, kesulitan dalam konsentrasi, hingga ledakan amarah bahkan pada kejadian tidak penting.

Mungkin ada gejala fisik dari kondisi ini juga. Mulai ketegangan otot hingga berkeringat.

Tapi jelas bukan tanda-tanda 'gila'. Ini adalah mekanisme pertahanan tubuh penderita dalam menghadapi situasi tertentu.

BACA SELANJUTNYA

Warga Indonesia Postif Corona Covid-19, Jangan Sampai Percaya Mitos Ini!