Himedik.com - Gangguan stres akut atau acute stress disorder (ASD) adalah kondisi kesehatan mental yang dapat terjadi segera setelah peristiwa traumatis. Ini dapat menyebabkan berbagai gejala psikologis dan tanpa pengobatan, dapat menyebabkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Ada hubungan erat antara gangguan stres akut (ASD) dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Beberapa orang mengalami PTSD setelah menderita ASD.
Bahkan menurut United States Department of Veterans Affairs, sekitar 19 persen orang akan mengalami ASD setelah mengalami peristiwa traumatis.
Walaupun setiap orang merespons peristiwa traumatis secara berbeda, tapi penting untuk mewaspadai potensi efek fisik dan psikologis yang dapat terjadi sesudahnya.
ASD merupakan diagnosis psikologis yang relatif baru. Melansir dari Medical News Today, American Psychiatric Association pertama kali memperkenalkannya ke edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Health Disorders pada tahun 1994.
Meskipun memiliki banyak gejala yang sama dengan PTSD, ASD memiliki diagnosis yang berbeda.
Penderita ASD mengalami tekanan psikologis segera setelah peristiwa traumatis. Tidak seperti PTSD, ASD adalah kondisi sementara, dan gejala biasanya bertahan selama setidaknya 3 hingga 30 hari setelah peristiwa traumatis.
Jika seseorang mengalami gejala lebih dari sebulan, dokter biasanya akan mendiagnosis sebagai PTSD.
Penderita ASD mengalami gejala yang mirip dengan PTSD dan gangguan stres lainnya, yaitu:
Baca Juga:
Mitos tentang Kanker dan Pembedahan Kanker yang Perlu Dipahami
1. Gejala intrusi
Terjadi ketika seseorang tidak dapat berhenti mengingat kembali peristiwa traumatis baik dari kilas balik, ingatan, atau mimpi.
2. Mood negatif
Seseorang mungkin mengalami pikiran negatif, kesedihan, dan suasana hati yang buruk.
3. Gejala disosiatif
Ini dapat mencakup perubahan realitas, kurangnya kesadaran tentang lingkungan, dan ketidakmampuan untuk mengingat bagian dari peristiwa traumatis.
4. Gejala penghindaran
Mereka yang mengalami gejala ini sengaja menghindari pikiran, perasaan, orang, atau tempat yang mereka kaitkan dengan peristiwa traumatis.
5. Gejala gairah
Meliputi insomnia dan gangguan tidur lainnya, sulit berkonsentrasi, serta mudah tersinggung atau agresi, yang dapat berupa verbal atau fisik. Penderita mungkin juga merasa tegang atau waspada dan mudah terkejut.
Orang-orang menderita ASD setelah mengalami satu atau lebih peristiwa traumatis. Peristiwa traumatis dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosi, atau psikologis yang signifikan.
Segera ke dokter atau psikiater jika mengalami gejala di atas. Pasalnya gangguan stres akut dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius seperti kecemasan dan depresi.
Tag
Berita Terkait
Terkini
-
VinFast Ubah Cara Pandang Dunia: Strategi Cerdas Bikin Mobil Listrik Lebih Dekat dengan Masyarakat
-
Pecahkan Kekhawatiran, VinFast Tawarkan Skema Langganan Baterai yang Inovatif dan Ramah Lingkungan
-
VinFast dan Transisi Energi Indonesia: Menjembatani Retorika Hijau dengan Aksi Nyata
-
Target Ambisius Transisi Kendaraan Listrik Indonesia 2030, Infrastruktur Sudah Siapkah?
-
Strategi Berani VinFast: Mengubah Permainan EV di Asia Tenggara, Dimulai dari Indonesia
-
Bisa Orgasme & Ejakulasi setelah Vasektomi? Fakta Penting yang Wajib Pria Ketahui!
-
5 Manfaat Fisioterapi, Tak Cuma Atasi Nyeri & Cedera
-
Jangan Sepelekan! Kurang Tidur Bisa Bikin Otak Lebih Cepat Tua
-
4 Trik Sederhana Jalan Kaki 10.000 Langkah Setiap Hari, Bakar Kalori Tak Harus ke Gym
-
Ciri-Ciri Menstruasi Normal, Bisa Dilihat dari 3 Hal