Jum'at, 10 April 2020
Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni : Senin, 17 Februari 2020 | 10:00 WIB

Himedik.com - Wuhan, China yang menjadi pusat wabah virus corona telah terkunci atau terisolasi sejak Januari 2020. Sebanyak 11 juta orang yang tinggal di sana pun tidak boleh berpergian ke luar Wuhan dan transportasi umum diberhentikan.

Kondisi wilayah yang terkunci selama berminggu-minggu hingga bulan ini tentunya memengaruhi kondisi mental para korban virus corona.

Apalagi mereka yang seluruh keluarganya harus diisolasi atau dikarantina karena virus corona dan tinggal sendiri. Belum lagi, kesulitan mencari perawatan medis hingga makanan untuk bertahan hidup.

Associate professor di Universitas Tulane dalam School of Social Work, dr Reggie Ferreira pun berpendapat dukungan sosial seolah menjadi faktor pelindung bagi para korban virus corona yang terisolasi dan berduka karena kehilangan.

"Sangat penting untuk tetap terhubungan dengan orang-orang, teman maupun keluarga melalui media sosial ketika terisolasi dan berduka," katanya dikutip dari Fox News.

Virus Corona Covid-19 masih menjadi momok di China, dengan jumlah korban terus mengalami peningkatan. (Shutterstock)

"Korban juga mungkin mengalami frustasi ketika terlalu lama di tempat yang terkunci tanpa kepastian waktu. Mereka mungkin saja mudah marah karena merasa berada di situasi yang disebabkan oleh kelalaian orang lain," jelasnya.

Selain itu, penghentian fasilitas umum seperti pengambilan sampah, pengiriman surat dan sekolah juga bisa menambah tingkat risiko frustasi dan tekanan mental pada mereka yang terjebak di dalam rumah berminggu-minggu.

Dalam kondisi ini, Reggie Ferreira mengatakan pentingnya para korban menyadari tentang risiko masalah mental tersebut. Sehingga mereka akan saling menyadari jika ada seseorang di sekitarnya yang membutuhkan penyedia layanan kesehatan mental.