Kamis, 28 Mei 2020
Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah : Selasa, 17 September 2019 | 07:00 WIB

Himedik.com - Mengapa saat tertekan atau cemas, perut juga akan ikut bereaksi? Ternyata ini karena otak dan lambung saling sinkron.

Hubungan langsung ini menyebabkan sistem pencernaan menjadi peka terhadap emosi serta reaksi seperti stres.

"Stres bisa memengaruhi setiap bagian dari sistem pencernaan," jelas Kenneth Koch, MD, profesor kedokteran di gastroenterologi dan direktur medis dari Digestive Health Center di Wake Forest University Baptist Medical Center di Winston-Salem, North Carolina.

Usus dikendalikan sebagian oleh sistem saraf pusat di otak dan sumsum tulang belakang. Selain itu, otak mempunyai jaringan neuron sendiri di lapisan sistem pencernaan, yang dikenal sebagai sistem saraf enterik atau intrinsik.

Saat dihadapkan dengan situasi yang berpotensi mengancam, sistem saraf simpatik merespons dengan memicu respon 'melawan atau lari'.

Melansir Very Well Health, respon itu melepaskan hormon stres kortisol untuk membuat peringatan tubuh dan siap untuk menghadapi ancaman tersebut.

Ilsutrasi sakit lambung karena stres (Shutterstock)

Saat stres mengaktifkan respon 'melawan atau lari' di sistem saraf pusat Anda, ini bisa memengaruhi sistem pencernaan, seperti:

- Menyebabkan kerongkongan menjadi kejang
- Meningkatkan asam di perut sehingga menyebabkan gangguan pencernaan
- Membuat Anda merasa mual
- Menyebabkan diare atau sembelit

Ilustrasi stres - (Pixabay/geralt)

Bahkan, stres mampu memperburuk gangguan pencernaan, termasuk Irritable bowel syndrome (IBS), penyakit radang usus, tukak lambung, dan GERD.