Jum'at, 10 April 2020
Agung Pratnyawan | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana : Senin, 18 Maret 2019 | 14:00 WIB

Himedik.com - Stunting menjadi salah satu masalah yang dibahas dalam debat cawapres 2019, Minggu (17/3/2019) malam kemarin. Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno menyebutkan bahwa kasus stunting di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi gawat darurat.

"Masalah stunting sangat-sangat ada dalam tahap yang gawat darurat, di mana sepertiga dari anak-anak kita kekurangan asupan gizi," kata Sandi.

Ia pun mengungkapkan, jika terpilih dalam Pilpres 2019 nanti, dirinya bersama Capres Prabowo Subianto akan meluncurkan program Indonesia Emas. Salah satu aspek dari program itu, Sandi menyebutkan, adalah, memastikan ibu-ibu alias emak-emak mendapatkan asupan protein yang cukup.

"Susu maupun asupan protein yang lain, ikan dan lain sebagainya. Juga anak-anaknya," ujar Sandi.

Selain itu, dalam penjelasannya, Sandi juga membahas soal 'sedekah putih', yang sebelumnya ditanyakan oleh Capres nomor urut 01 Ma'ruf Amin.

"Putih itu adalah susu, dan kita menjadikan bagian dari Indonesia Emas. Program utama kami adalah Indonesia Emas. Siapa yang ingin menyumbangkan susu, tablet, kacang hijau, silakan," tambahnya.

Ilustrasi bayi minum susu (Pixabay/StockSnap)

Stunting sendiri, dikutip HiMedik.com dari situs web resmi WHO, merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak karena gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Anak-anak dianggap menderita stunting jika tinggi badan mereka berdasarkan usianya lebih dari dua tingkat di bawah standar deviasi dari median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan anak sampai ia berusia 2 tahun bisa memberikan konsekuensi yang merugikan jika terlambat ditangani.

Konsekuensi tersebut antara lain buruknya kemampuan kognitif dan perbuatannya terkait pendidikan, rendahnya pendapatan yang dimiliki saat dewasa, hilangnya produktivitas, dan, ketika disertai dengan kenaikan berat badan yang berlebihan di masa kanak-kanak, peningkatan risiko penyakit kronis yang berhubungan dengan gizi saat dewasa.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam International Food Policy Research Institute (IFPRI), di Bangladesh, contohnya, konsumsi susu memiliki dampak besar pada pertumbuhan linier dalam 1.000 hari pertama kehidupan bayi dan mengurangi stunting hingga 10,4 poin pada anak-anak.

"Meningkatkan akses untuk produk susu bisa sangat bermanfaat bagi nutrisi dan kesehatan jangka panjang anak-anak usia 6-23 bulan ketika dimasukkan ke dalam diet yang mencakup praktik pemberian ASI yang baik," kata Derek Headey, penulis utama dalam penelitian itu.

"Mengingat hampir setengah dari anak-anak di pedesaan Bangladesh menderita stunting, peningkatan konsumsi susu di kalangan anak-anak dan wanita usia subur harus menjadi prioritas utama untuk strategi gizi di Bangladesh."