Rabu, 03 Juni 2020
Rauhanda Riyantama : Senin, 15 Oktober 2018 | 19:00 WIB

Himedik.com - Jika selama ini rokok elektrik seperti vape dianggap lebih aman, ternyata salah besar. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Yunani membuktikan rokok elektrik bisa mempercepat peradangan pada paru-paru.

Dirangkum dari New York Post, eksperimen yang dilakukan pada tikus, menunjukkan bahwa menghisap rokok elektrik dalam jangka pendek saja bisa menyebabkan radang paru-paru, bahkan lebih buruk daripada rokok konvensional.

"Efek merugikan yang diamati pada paru-paru hewan akibat paparan uap rokok elektrik, menyoroti perlunya penyelidikan lebih lanjut tentang keamanan dan toksisitas dari perangkat yang berkembang pesat di seluruh dunia ini," kata dr Constantinos Glynos, salah seorang peneliti.

Para peneliti melakukan percobaan dengan beberapa kelompok tikus. Ada tikus yang dipaparkan dengan asap rokok, uap rokok elektrik, dan udara bersih selama empat kali setiap hari. Setiap sesinya dipisahkan oleh interval bebas setiap 30 menit.

Temuan yang diterbitkan di American Journal of Physiology ini memperlihatkan, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik tidak baik untuk kesehatan. Bahkan, jika dilakukan dalam jangka waktu panjang bisa sangat berbahaya.

Bahaya rokok elektrik untuk kesehatan. (unsplash)

Glynos, yang berasal dari Universitas Athena mengatakan, rokok elektrik diiklankan dengan nikotin yang lebih sedikit atau sebagai alat berhenti merokok terbaru. Namun, nyatanya bisa jauh lebih berbahaya, bahkan cenderung menyebabkan ketergantungan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa paparan uap rokok elektrik dapat memicu respons inflamasi dan memengaruhi mekanisme sistem pernapasan," kata Glynos.

Temuan ini jelas menguatkan sebuah penelitian yang lebih dulu dilakukan di Inggris, yang juga mengatakan bahwa rokok elektrik lebih berbahaya daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Ilmuwan dari Universitas Birmingham mengekstrasi sel-sel dari sampel paru-paru orang sehat yang bukan perokok, lalu memaparkannya dengan cairan dari rokok elektrik, uap terkondensasi, dan tanpa uap selama 24 jam.

Hasilnya, paparan terharap uap meningkatkan kematian sel dan produksi bahan kimia penyebab inflamasi.