Minggu, 31 Mei 2020
Vika Widiastuti : Selasa, 22 Januari 2019 | 14:00 WIB

Himedik.com - Banyak wanita yang mengalami kenaikan berat badan selama kehamilan, bahkan terkadang sulit menurunkannya. Hal itu pula yang sempat dialami pelatih olahraga pribadi dan ahli nutrisi, Sarah Moore.

Dilansir dari Popsugar, Minggu (20/1/2019), wanita 30 tahun tersebut mengatakan, dirinya bertambah gemuk saat mengandung anak keduanya. "Pada saat dia lahir pada tahun 2011, saya mengalami obesitas dan skalanya terus meningkat," katanya.

Saat mengunjungi dokter, 9 bulan seusai dia melahirkan, Sarah baru tahu jika bukan hanya berat badannya yang meningkat. Melainkan juga dengan tekanan darah tingginya yang naik. Selain itu, gula darahnya juga berada dalam kisaran yang menempatkan dirinya berisiko menderita diabetes tipe 2.

Ketika itu berat badan Sarah sekitar 116 kg. Hal itu membuatnya menghindari kamera dan cermin. Pada 2012 dia kemudian menetapkan resolusi tahun baru penurunan berat badan sekitar 18 kg.

"Dokter saya merekomendakikan aplikasi MyFitnessPal untuk mengontrol makanan saya. Jadi, saya mulai hanya dengan menghitung kalori," ujarnya.

Dia pun sadar perlu melakukan sesuatu untuk menurunkan berat badannya. Jadi, dia kemudian membatasi asupan makannya selama beberapa hari, tetapi ternyata tak berhasil.

"Saya mencoba semuanya dari puasa, diet rendah karbohidrat hingga Whole30, tetapi saya tidak bisa berpegang teguh pada apa pun yang membuat saya merasa dibatasi," ungkapnya.

Bukan mengubah apa yang dimakannya, Sarah kemudian mengubah porsi makanannya.

Sarah memutuskan untuk makan enam kali sehari sehingga dia pun tidak pernah merasa kehilangan atau dibatasi. Dia tak  mengurangi makanan atau membatasi makro nutrisi.

Dia hanya memperhatikan porsi makanannya, memastikan mendapat cukup protein, dan beberapa sayuran setiap kali makan.

Hal pertama yang dimakannya di pagi hari adalah dua telur utuh, tiga putih telur, dan jeruk.

Untuk Sarapan, yaitu dua hingga tiga cangkir sayuran, protein shake, oatmeal, dan pisang.

Makan siang (20 menit setelah berolahraga), dia akan mengonsumsi protein tanpa lemak seperti ayam atau ikan, karbohidrat sehat seperti kentang atau apel, dan dua hingga tiga cangkir .

Makanan di sore hari, yaitu putih telur dengan sayuran atau bar protein dengan salad.

Lalu makan malam dengan mengonsumsi protein tanpa lemak dan dua hingga tiga cangkir sayuran.

Kemudian sebelum tidur, dia mengonsumsi protein shake (hanya protein dan air) dan sesendok selai kacang atau keju string.

"Saya tidak selalu makan seperti itu, saya masih memiliki pizza dan semua makanan favorit saya, tapi seperti itulah sebagian besar dietku," katanya.

Pola olahraga

Setelah menghitung kalori selama beberapa bulan, dia berhasil menurunkan berat badan 4,5 kg. Namun semuanya berjalan lambat.

Akhirnya dia menambahkan rutinitas olahraganya. Dia mulai melakukan jogging, nge-gym, dan mengangkat beban. Pada akhir tahun sarah berhasil kehilangan 36 kg. Dia lalu kehilangan 13,6 kg selama setahun berikutnya.

Berat badannya terus turun, kecuali saat dia mengandung putranya. Hingga pada akhirnya, Sarah berhasil menurunkan hampir 50 kg dalam lima tahun terakhir.

Sarah pun mengaku, kini dirinya menjadi lebih percaya diri dibanding dulu. "Saya merasa sedih, saya malu dengan penampilan saya, saya tidak percaya diri pada diri saya sendiri. Jadi saya tidak benar-benar menetapkan tujuan atau mencoba meningkatkan apapun," katanya.

Setelah kehilangan berat badan, Sarah pun kini menemukan gairah dalam kebugaran dan sekarang menjadi pelatih pribadi dan pelatih penurunan berat badan.

"Sulit untuk melihat kembali orang di mana saya berada karena langkah demi langkah, saya telah membuat banyak perubahan kecil sejak saat itu sehingga saya merasa seperti orang yang sama sekali berbeda," katanya.

Sarah kemudian mengatakan kepada siapapun yang berniat menurunkan berat badannya agar selalu memahami motivasi agar tidak mudah menyerah. Setelah itu yang terpenting adalah kesiapan, kedisplinan, dan konsisten.