Rabu, 08 April 2020
Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah : Jum'at, 14 Februari 2020 | 11:00 WIB

Himedik.com - Polusi udara memang sudah menjadi masalah tersendiri bagi daerah perkotaan dan kita tahu jika paparan polusi dapat membahayakan kesehatan.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal The BMJ, berdasarkan data lebih dari 400 kota di 20 negara di dunia, menunjukkan lebih dari 6.000 kematian setiap tahun dapat dihindari jika negara menerapkan standar kualitas udara yang lebih ketat.

“Temuan ini memiliki implikasi penting untuk desain tindakan kesehatan masyarakat di masa depan. Khususnya, misal, dalam kaitannya dengan implementasi strategi mitigasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim,” kata para peneliti dari University of Bern di Swiss, dilansir The Health Site.

Ambang batas kualitas udara saat ini (dalam mikrogram per meter kubik udara ambien) berkisar antara 100 ug / m3 (WHO) dan 160 ug. / m3 (Standar Kualitas Udara Ambien Cina).

Ulasan terbaru menunjukkan 80% populasi dunia di daerah perkotaan terpapar pada tingkat polusi udara di atas ambang batas WHO.

Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Menggunakan data dari Multi-City Multi-Country Collaborative Research Network, mereka memperoleh tingkat ozon harian rata-rata (di atas tingkat latar belakang maksimum 70 μg / m3), partikel, suhu, dan kelembaban relatif di setiap lokasi untuk memperkirakan jumlah harian dari kematian tambahan yang disebabkan ozon.

Sebanyak 45.165.171 kematian dianalisis di 406 kota. Rata-rata, peningkatan 10 μg / m3 dalam ozon selama hari ini dan hari sebelumnya dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian 0,18%.

Ini setara dengan 6.262 kematian tambahan setiap tahun di 406 kota, yang sebenarnya dapat dihindari jika mereka menerapkan standar kualitas udara yang lebih ketat sesuai dengan pedoman WHO.

Terlebih lagi, dampak kematian yang lebih kecil tetapi masih substansial ditemukan, bahkan untuk konsentrasi ozon di bawah tingkat pedoman WHO.

Hal ini mendukung inisiatif WHO untuk mendorong negara-negara agar meninjau kembali pedoman kualitas udara saat ini dan menegakkan pembatasan emisi yang lebih kuat untuk memenuhi rekomendasi ini, kata para peneliti.